Close
*
*
Register an Account
Account Details
*
*
Password Strength
Profile Details
Social Profiles
Map
Please enter valid address
>

 Sebutan Asli Si Martabak Manis

27 Januari 2010 14:04
Tak ada salahnya kalau saya mengajak menilik sejarah panjang martabak manis. Bagaimana awal mula ditemukan jajanan manis ini, siapa yang mempopulerkannya, dan kenapa bisa disebut martabak manis? Mari simak ulasan berikut.

Nama martabak manis yang popular sekarang bisa dikatakan sebagai bentuk penamaan yang salah. Kenapa saya anggap begitu? Sebelumnya, coba kita lihat deretan sejarah si martabak yang merupakan jajanan khas kaum keturunan India atau Pakistan.
Bahan utama makanan ini berasal dari telur bebek atau telur ayam yang dikocok, kemudian dicampur daging kambing cincang dan rajangan daun bawang. Adonan itu digoreng dengan kulit tipis yang terbuat dari tepung terigu lalu dibentuk segi empat. Hasilnya adalah telur dadar garing yang sangat harum dan gurih. Biasanya hidangan ini disantap dengan cocolan saus encer asin beraroma kari, acar segar dari ketimun, bawang merah, tak ketinggalan cabai rawit. Selain martabak, orang-orang keturunan India-Pakistan juga punya kekayaan kuliner lain yang digemari banyak orang, seperti mi mamak (sangat mirip mi Aceh), sup lembu, teh tarik, dan nasi briyani.
Lain lagi dengan martabak yang banyak dijumpai di Malaysia. Martabak telur di sana dikenal sebagai martabak Malabar atau martabak asin, atau biasa juga disebut murtabak. Cara menyajikannya pun beda. Bila di Indonesia martabaknya dipotong rapi - biasanya menjadi 12 potong - di Malaysia martabaknya "dihancurkan" dengan spatula pada wajan penggorengan saat dalam keadaan setengah matang. Hasilnya terlihat seperti telur orak-arik atau scrambled egg.
Sekarang kita beranjak ke Aceh. Di sana martabaknya seperti terbalik. Kulitnya tidak di luar, melainkan di sisi dalam. Kulit yang terbuat dari tepung digoreng dan dilipat membentuk segi empat, kemudian adonan telur kocok dengan daging cincang yang sudah dicampur daun bawang disiram di atasnya. Setelah matang, dibalik, lalu disiram lagi dengan sisa adonan telur. Hasilnya hampir sama seperti telur dadar yang di dalamnya ada selapis "keripik" tepung yang crispy. Di "Kampoeng Tempo Doeloe" pada acara JFFF 2009 lalu, jajanan ini paling popular dan paling panjang antrean pembelinya.
Dengan pengantar yang panjang ini, kerancuan istilah martabak manis untuk kue yang sebetulnya lebih mirip cake itu mulai terjawab. Coba saja perhatikan, bahan dasar martabak manis yang kita kenal mirip adonan cake, dan teksturnya mirip bika ambon atau pukis. Lalu, kenapa bisa disebut martabak?

Berawal dari Sungailiat

Kehadiran martabak manis punya sejarah panjang di Indonesia. Menurut cerita yang berhasil saya kumpulkan, kue ini pertama kali muncul pada akhir abad 19, di Sungailiat, Pulau Bangka. Waktu itu banyak pendatang orang Tionghoa yang merantau di Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep. Dalam kondisi tingkat ekonomi yang minim, mereka yang sudah tidak kuat lagi bekerja di tambang timah bertahan hidup dengan berbagai cara. Ada yang mengumpulkan sisa-sisa nasi untuk difermentasi menjadi arak, ada yang bercocok tanam, dan sisanya bergelut di bidang usaha makanan.
Salah satu dari pendatang Tionghoa tersebut berhasil membuat kue dari bahan adonan tepung terigu dan telur yang kemudian dipanggang dalam ketel atau semacam loyang besi berbentuk bundar. Setelah mengembang, kue itu kemudian ditaburi wijen sangrai dan gula pasir. Dan ternyata kue lezat itu cocok di lidah banyak orang.
Selanjutnya orang-orang menyebut kue itu dengan hok lo pan. hok lo berarti orang Tionghoa, sedangkan pan adalah ketel atau loyang tempat memanggang. Popularitas hok lo pan pun sampai ke Pangkalpinang, ibukota Pulau Bangka. Dari sana terus merambah ke wilayah-wilayah Indonesia lainnya.
Di tahun 50-an, ketika saya masih kecil, di Padang, Sumatra Barat, jajanan ini sudah sangat terkenal dengan nama Kue Pangkalpinang. Sebutan lain untuk jajanan ini adalah Kue Terang Bulan karena waktu itu kuenya tidak dilipat menjadi dua, melainkan disajikan dalam bentuk bulat seperti bulan purnama dengan taburan wijen, kacang tanah tumbuk, dan gula.

Masuk Bandung

Saya selalu berpikir sejak dulu Bandung selalu menjadi kiblat untuk segala jenis kreatifitas. Makanan, termasuk salah satunya. Makanan yang populer di Bandung, pasti cepat menyebar ke seantero tanah air.
Suatu ketika ada seorang perantau dari Sungailiat, Bangka, bernama Bong Kap Tjoen datang ke Bandung saat dia berusia 20 tahun. Niat awalnya ia ingin mencari abangnya. Sesampainya di Kota Kembang ia ikut membantu abangnya yang punya usaha makanan, salah satunya membuat teng teng Kacang, di Jalan Emung. Saat itu di kawasan alun-alun Bandung sudah ada perantau dari Bangka yang berjualan hok lo pan. Kebetulan penjualnya masih saudara jauh Bong Kap Tjoen. Bong muda pun tergerak untuk memulai usaha sendiri dengan membuat kue yang sama. Bong membuat sebuah gerobak, lalu berjualan hok lo pan. Ia sengaja mencari tempat yang agak jauh dari alun-alun, agar tidak bersaing dengan saudaranya yang sudah lebih dulu berjualan kue itu. Ia memilih lokasi di Jalan Gatot Subroto. Suasana malam kota Bandung yang dingin membuat hok lo pan buatan Bong laris manis.
Bong yang kreatif membuat variasi baru penampilan kuenya. Selain ditaburi wijen dan kacang tanah, ia memperkenalkan hok lo pan dengan taburan kacang dan coklat butir (muisjes). Bong pun mencoba menambahkan susu kental manis supaya rasa kuenya semakin mak nyuss.
Sentuhan ini berhasil membuat kue buatan Bong makin populer, lalu ia memindahkan gerobaknya ke dekat perempatan, tepatnya di sekitar Monumen Tank Waja. Larisnya usaha Bong menginspirasi penjual lain sehingga kawasan itu main ramai dengan gerobak-gerobak makanan.
Dari pengakuan Nyonya Francisca, istri almarhum Bong Kap Tjoen, ia tidak ingat siapa sebenarnya yang memperkenalkan istilah martabak manis sebagai sebutan baru hok lo pan. Mungkin istilah itu diperkenalkan oleh Bong Kap Tjoen, tapi bisa jadi, justru para pelanggannya yang memberi nama tersebut. Selanjutnya martabak manis Bong Kap Tjoen diberi merek "San Francisco" yang hingga kini populer di Bandung.
"Merek ini dipilih bukan karena suami saya sering datang ke San Francisco. Bukan juga karena nama saya Francisca. Saat itu itu lagu 'San Francisco' sangat popular, itu sebabnya suami saya memilihnya sebagai merek dagangnya," kata Francisca menjelaskan sejarah merek jualannya.

Tipker dan Keju

Francisca menambahkan, Bong Kap Tjoen pulalah yang pertama kali bereksperimen menaburkan serutan keju cheddar sebagai topping martabak manisnya.
Sekarang varian martabak manis sangat beragam. Permainan topping-nya bisa memakai jenis buah-buahan seperti durian, stroberi, apel, dan jagung manis. Di Cirebon ada juga yang penjual yang membuat martabak manis hitam. Adonannya dicampur cokelat pekat sehingga warna kuenya menjadi cokelat kehitaman. Topping-nya sangat serasi dengan rasa cokelat, yaitu irisan pisang raja dan taburan kismis.
Sejak dua dasawarsa yang silam, bersamaan dengan masuknya keju sebagai isi martabak manis, para pedagang kue itu berinisiatif memakai mentega impor dari Belanda untuk membuat kuenya lebih legit. Penambahan mentega pada martabak manis membuat orang-orang yang peduli lingkar pinggang menjadi khawatir dengan ukuran badannya. Ini yang mendasari hadirnya versi martabak manis yang tipis dan kering, atau biasa disebut tipker. Sekarang tergantung selera kita, tinggal pilih, kan? Apapun jenisnya, martabak manis memang selalu membuat hati senang dan lidah berdansa. 

Comments

Belum ada comment, posting comment Anda di bawah ini!


Terfavorit


Other Articles


» view all