Tumpeng tidak pernah absen dalam berbagai tradisi atau rangkaian upacara. Secara mitologis Jawa, tumpeng juga ada dalam ritual kehidupan, mulai kelahiran, ulang tahun, kehamilan, ruwatan, ucap syukur, hingga kematian. Nasi tumpeng ini biasanya ditemani dengan aneka lauk pauk yang berjumlah 7 atau dalam bahasa Jawa ‘pitu’ dengan maksud sebagai pitulungan atau pertolongan.

Tumpeng bisa ditemani dengan berbagai pilihan lauk yang bebas dipilih. Beberapa di antaranya seperti ayam goreng atau bakar, perkedel, tahu tempe bacem, tempe orek, urap, sate, abon, telur dadar atau telur balado, serundeng, dan lainnya. Tumpeng dan semua lauk pauknya itu disajikan di tampah (wadah bundar terbuat dari anyaman bambu) dan dialasi dengan daun pisang. 

Nasi tumpeng yang bisa terbuat dari nasi putih, nasi kuning, ataupun nasi uduk itu berbentuk kerucut yang menjulang tinggi ke atas, menyerupai gunung. Bentuk itu identik dengan bentuk gunungan dalam wayang kulit yang merupakan simbolisasi alam semesta dengan Tuhan yang ada di puncaknya. Namun, ada pula yang memaknai bentuk tumpeng sebagai simbol dari topografi Indonesia yang bergunung-gunung.

Nasi tumpeng umumnya berukuran cukup besar yang bisa dinikmati beramai-ramai. Namun, seiring perkembangan zaman, maka kini banyak dihadirkan tumpeng mini yang bisa dinikmati secara individual. Tumpeng mini ini bisa ditemukan di beberapa tempat makan seperti Kembang Goela, Harum Manis, Dapur Solo, dan lainnya.