• Novi Amaliyah

Fakta Tentang Minyak Truffle


Truffle memiliki sejarah yang panjang dalam penggunaan untuk masakan, truffle pertama kali disebut dalam era Neo-Sumeria pada abad ke-20 SM. Truffle kemudian diproduksi di Roma kuno dan mendapatkan kembali popularitasnya yang luas pada zaman Renaissance. Pada 1780-an, truffle menjadi salah satu makanan favorit di Paris, meskipun dengan harganya yang sangat mahal. Tak heran truffle menjadi salah satu menu lezat untuk para bangsawan.


Dari 6 jenis jamur truffle, jamur truffle Alba putih adalah salah satu yang paling langka dengan harga yang fantastis. Citarasanya yang unik dan mewah memberikan pengalaman berbeda saat menyantap sajian dengan paduan truffle. Karena harganya yang mahal dan sulit didapat untuk jamur truffle yang segar, Chef biasanya beralih ke minyak truffle untuk memberikan rasa dan aroma yang istimewa pada sebuah hidangan.


Minyak truffle adalah jenis minyak beraroma yang sering dikucurkan di atas pizza, pasta, risotto atau sayuran dan dinikmati karena rasanya yang kaya dan manfaat kesehatan yang bisa didapatkan. Namun saat membahas minyak truffle, penting untuk membedakan antara yang asli dan sintetis. Minyak truffle asli dibuat dengan menambahkan irisan jamur truffle yang dapat dimakan ke dalam minyak dan membiarkan rasanya meresap selama beberapa hari untuk mendapatkan minyak truffle dengan citarasa otentik.


Sementara itu ada minyak truffle sintetis atau buatan yang saat ini mudah ditemukan di pasaran. Minyak truffle buatan atau sintetis dibuat menggunakan bahan kimia yang dirancang untuk meniru aroma truffle asli, pertama kali diproduksi pada 1980-an. Produksi minyak truffle buatan ini mendapatkan kritikan secara terbuka dari Chef terkenal seperti Gordon Ramsay hingga Anthony Bourdain. Mereka percaya minyak truffle buatan dapat mengubah persepsi tentang seperti apa rasanya truffle sebenarnya.


Minyak truffle sintetis buatan dengan menambahkan bahan kimia 2,4-dithiapentane ke dalam minyak, yang meniru rasa dan aroma truffle.Bahan yang digunakan untuk minyak truffle mungkin berbeda-beda, tetapi biasanya dibuat menggunakan minyak zaitun sebagai bahan dasarnya. Namun, beberapa produsen minyak truffle juga menggunakan jenis minyak lain, seperti minyak canola atau grapeseed dimana mengurangi banyak manfaat kesehatan potensial dari minyak truffle asli.


Senyawa 2,4-dithiapentane, adalah salah satu dari ratusan senyawa aromatik yang memberi rasa dan aroma yang sulit dipahami. Sebagian besar minyak truffle putih dibuat dengan 2,4-dithiapentane sintetis, yang berasal dari produk minyak bumi. Beberapa produk, sering diberi label "alami" karena menggunakan senyawa 2,4-dithiapentane dari bahan makanan lain seperti brokoli, bawang putih, seledri, bawang merah atau jamur. Dalam kedua produk tersebut dibuat tanpa kandungan truffle sama sekali, dan hanya mewakili satu dari ratusan senyawa rasa yang ada dalam truffle segar.


Beberapa minyak truffle ada yang mengandung sedikit truffle kering yang terlihat di dalam kemasan botolnya. Tetapi zat yang mudah menguap dalam truffle cepat menghilang dan tidak memberikan rasa sama sekali. Sayangnya tidak ada cara yang dapat diandalkan untuk mengekstrak rasa dan aroma dari jamur truffle segar. Karena senyawa ini sangat mudah menguap, dan dengan cepat menghilang. Jamur truffle segar dapat menahan rasa dan aromanya hanya sekitar lima hari. Minyak yang dibuat dengan memasukkan irisan jamur truffle segar juga tidak bisa disimpan dalam watu lama.

Terlepas dari masalah minyak truffle asli dan sintetis, popularitas minyak truffle terus melonjak. Karena produksi massal minyak truffle buatan yang murah namun terjangkau membuatnya lebih mudah diakses oleh masyarakat umum.