top of page

MIRAGE, Pameran Seni yang Angkat Perspektif Kehidupan Masa Kini Percantik Artotel Gelora Senayan

  • Gambar penulis: Maria Yuliana Kusrini
    Maria Yuliana Kusrini
  • 4 hari yang lalu
  • 2 menit membaca

Artotel Gelora Senayan mempersembahkan pameran seni perdananya di tahun 2026 yang mengusung tema 'MIRAGE'. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi dengan J+ Art Awards 2026 yang diinisiasi oleh Connected Art Platform.



Konsep MIRAGE menghadirkan beragam respons artistik terhadap cara manusia memaknai realitas di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang terus berlangsung. Melalui tema ini, para seniman menghadirkan perspektif yang beragam terhadap berbagai isu yang dekat dengan kehidupan manusia masa kini. Pamerannya berlangsung selama tiga bulan, mulai dari 24 Juli hingga 24 Oktober 2026 di ARTSPACE, Lobby Level Artotel Gelora Senayan yang bisa dinikmati secara gratis atau tanpa dipungut biaya.


Pameran ini menghadirkan 10 karya dari 9 seniman terpilih, yakni Adril Wak Yong, Agung Bule, Camelia Mitasari Hasibuan, Minji Sani, Mivetboi, Mochamad Rizky Aditya, Patricia Geraldine Thebez, Raka Hadi Permadi, dan Yung Finando. Untuk karya Adril Wak Yong berjudul 'Patah Kemudi' yang mengangkat pencarian identitas budaya Melayu di tengah krisis jati diri. Sementara Agung Bule lewat karyanya 'KUNING #82' mengeksplorasi proses melukis yang intuitif sebagai ruang bagi ketidakpastian dan pengalaman batin.


Dalam karya 'Sound of Nature (Sea Series)', sosook Camelia Mitasari Hasibuan memaknai laut sebagai ruang genealogis yang menyimpan suara-suara kehidupan dan keberlanjutan. Berbeda halnya dengan Minji Sani yang menghadirkan 'The Pseudo-Stage: A Shelter of

Memory' sebagai kritik terhadap rapuhnya ruang domestik di tengah modernisasi dan

tekanan sosial-politik. Mivetboi menyuguhkan dua karya 'Monolog Ruang Tengah' dan 'Kembali Senja' yang merefleksikan perjalanan emosi serta proses kembali mengenal diri sendiri melalui ruang kontemplasi.



Mochamad Rizky Aditya melalui 'Ecology without Nature' ingin mengajak audiens meninjau kembali cara manusia memahami hubungan dengan alam. Di sisi lain, Patricia Geraldine Thebez dalam 'The Weight of What Remains' lebih merekonstruksi ingatan personal sekaligus menyoroti isu kekerasan dan pengalaman perempuan. Raka Hadi Permadi melalui karya 'Alok-Aruh' lebih merefleksikan memudarnya budaya saling menyapa dalam kehidupan masyarakat. Dan Yung Finando mempersembahkan 'Urgent ', sebuah lanskap sureal yang menggambarkan kecemasan manusia di tengah derasnya arus informasi sekaligus kerinduan akan ruang yang lebih tenang.


ā€œMelalui pameran MIRAGE ini, kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjalanan J+ Art Awards 2026 dan turut memperkenalkan karya-karya para seniman terpilih kepada publik. Kami berharap pameran ini dapat menjadi ruang yang mendorong apresiasi, dialog, dan keterlibatan yang lebih dekat dengan seni kontemporer,ā€ ungkap Christo Gultom selaku Director of Sales & Marketing Artotel Gelora Senayan - Jakarta.



Komentar


bottom of page