Trend Kopitiam Buka Peluang Baru di Tanah Air
- Maria Yuliana Kusrini

- 2 jam yang lalu
- 2 menit membaca
Kopitiam identiknya dijadikan lokasi untuk menikmati kopi yang didampingi dengan pendamping seperti roti. Kini lebih dari sekadar tempat ngopi, kopitiam pun kini beralih pada peluang baru, khususnya di industri kafe di Tanah Air. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri kedai kopi di Indonesia, trend kopitiam muncul sebagai salah satu konsep yang semakin diminati.

Kopitiam yang berakar dari budaya Asia Tenggara dan berkembang sejak awal abad ke-20 di Malaysia dan Singapura, kini semakin relevan dengan selera konsumen modern. Konsep ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari kedai kopi pada umumnya. Yakni dengan fokus pada minuman berbasis kopi, teh, dan susu seperti kopi tarik, teh tarik, serta menu pendamping seperti kaya toast yang menghadirkan rasa familiar sekaligus penuh nostalgia. Kopitiam hadir sebagai alternatif dengan karakter yang lebih kuat dari sisi rasa maupun pengalaman.
Hingga November 2025, Indonesia tercatat memiliki lebih dari 461 ribu kedai kopi yang mencakup kafe modern, kedai tradisional, hingga warung kopi. Hal itu mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap budaya ‘ngopi’. Di antara pertumbuhan itu, kopitiam muncul sebagai salah satu sub-segmen yang kian berkembang, terutama di berbagai kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan.
“Pertumbuhan kopitiam di Indonesia tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen yang kini cenderung mencari minuman yang lebih approachable, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa dan nyaman dinikmati kapan saja. Selain itu, faktor familiarity juga berperan besar, karena profil rasa kopitiam relatif dekat dengan selera masyarakat lokal. Berbeda dengan specialty coffee yang berfokus pada origin dan teknik seduh, kopitiam justru menekankan pada blending dan konsistensi. Di situlah kompleksitasnya, bagaimana menciptakan rasa yang stabil dan bisa diterima oleh berbagai segmen," ungkap Doddy Samsura sebagai Coffee Enthusiast dan Runner-up Asian FBC Singapore 2012.

Sampai saat ini, produk Dairy Champ telah lama digunakan di berbagai kopitiam dan dikenal dengan profil rasa yang khas serta konsisten. Di Indonesia, Dairy Champ terus memperluas pemanfaatannya melalui beragam aplikasi minuman dan dessert, termasuk sajian bergaya kopitiam. Tentunya untuk menghadirkan tekstur creamy yang lembut, rasa manis seimbang, konsistensi yang stabil, hingga cocok untuk jenis minuman panas maupun dingin. Karakter ini menjadi elemen penting dalam membentuk signature taste yang mudah dikenali oleh konsumen.
“Trend kopitiam di Indonesia berkembang sangat cepat, namun kami melihat masih ada gap yang cukup besar dalam hal autentisitas rasa. Banyak menu yang terlihat serupa, tetapi belum menghadirkan pengalaman yang benar-benar khas seperti yang ditemukan di Malaysia. Ke depan, konsistensi dan karakter rasa mulai dari tekstur creamy hingga keseimbangan rasa akan menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk membangun diferensiasi dan daya saing di pasar,” ujar Dodi Afandi selaku Head of Marketing PT. Etika Beverages Indonesia yang menaungi Dairy Champ.
Penggunaan produk Dairy Champ sebagai bahan baku pada menu di kopitiam menghadirkan sajian berkarakter rasa yang creamy dan gurih. Hal itu pun akan memenangkan perhatian konsumen masa kini dengan menghadirkan pengalaman yang tidak hanya nikmat, tetapi juga autentik dan berkarakter. Untuk ke depannya, trend kopitiam diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya minat terhadap konsep yang menggabungkan heritage dan gaya hidup modern. Kopitiam pun memiliki potensi untuk menjadi salah satu segmen yang semakin diperhitungkan dalam industri kafe di Indonesia.



Komentar