Bread is Home: Suguhkan Roti Berbahan Baku Petatas atau Ubi Khas Papua

Bread is Home merupakan usaha rintisan dari seorang wanita sekaligus ibu dari anak berkebutuhan khusus. Bermula dari niatnya untuk membuat roti untuk sang anak agar dapat menyantap dan menikmati makanan yang sesuai. Hingga pada akhirnya usaha itu pun berkembang pesat di Papua.

Sebagai salah satu UMKM di Papua, Home is Bread tumbuh mencapai 135% dan membuka jalan sekaligus harapan bagi lebih banyak anak berkebutuhan khusus di Papua (Siswa SLB). Dari sebelumnya sekitar 1.300 produk, usaha rumahan itu pun kini mampu menghasilkan 2.800-3.300 produk per bulannya. Bahkan, produknya juga mulai dipasarkan melalui sejumlah kafe lokal di Jayapura. Mulai dari Embai Coffee and Roastery, Sandyakala, Meja Kopi, dan Hujan Sore.
Perjalanan Home is Bread dimulai pada tahun 2020 oleh seorang wanita bernama Juli. Saat itu, ia pindah dari Jakarta ke Jayapura mengikuti suaminya. Melihat harga produk oleh-oleh di Papua yang relatif tinggi, Juli mulai membuat alternatif yang lebih terjangkau dari dapur rumah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti sagu. Roti berbahan sagu yang dibuat Juli pun terus mendapatkan permintaan yang terus bertambah. Skala bisnisnya yang kecil, sempat membuat Juli kurang percaya diri.
Namun, pada akhirnya Juli merasakan perubahan setelah mengikuti SisBerdaya. Sebuah program pemberdayaan UMKM perempuan yang diselenggarakan oleh DANA bersama Ant International Foundation. Melalui program itu, Juli mempelajari public speaking, psikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk bisnis. Tak hanya itu saja, Juli juga memperoleh kerja sama baru, salah satunya dengan Meja Kopi, sebuah kafe di Jayapura yang kemudian menjadi salah satu mitra Bread is Home.

Seiring perkembangan bisnisnya, Juli bersama suaminya mulai mengolah petatas menjadi olahan roti modern. Petatas merupakan sejenis ubi yang merupakan pangan lokal khas Papua. Roti berbahan petatas itu pun sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh dan menjadi teman sempurna untuk dinikmati bersama kopi Papua. Ke depannya, Juli berencana mengembangkan usahanya hingga memiliki toko fisik, open kitchen, dan baking studio di Jayapura. Tempat itu diharapkan tidak hanya menjadi ruang usaha, tetapi juga ruang belajar tentang bakery, pangan lokal, kewirausahaan, dan inklusivitas.
“Dari satu kafe, akhirnya saya mulai membuka kerja sama dengan kafe-kafe lainnya. Tak berhenti di situ saja, saya juga berpikir bagaimana bahan pangan lokal seperti petatas bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih modern, tetapi tetap punya identitas Papua. Maka dari itu, kami mengolah petatas menjadi roti modern,” ujar Juli.

Pertumbuhan Bread is Home juga mendekatkan Juli dengan misi personalnya. Berangkat dari pengalamannya membesarkan anak berkebutuhan khusus, Juli pun mulai membuka kesempatan bagi siswa SLB 1 Jayapura, tempat anaknya bersekolah, untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam proses pembuatan roti. Selain itu, Bread is Home juga tengah mengembangkan kurikulum keterampilan baking sekaligus memberikan pelatihan kepada para orang tua. Semangat pemberdayaan ini juga Juli bawa ke lingkungan sekitar dengan melibatkan ibu rumah tangga dan ibu tunggal dalam usahanya. Hal itu Juli lakukan agar para ibu itu memiliki ruang untuk berkarya dan tumbuh lebih mandiri.
Berawal dari dapur rumah hingga mampu memproduksi lebih dari 3.000 produk per bulan, Bread is Home menjadi bukti bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya tentang angka saja. Namun, juga berarti membuka lebih banyak peluang bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar, berkarya, dan menjadi lebih mandiri.



Komentar