"Cerita Baru di Meja TAMU" Hadirkan Kuliner Nusantara di TAMU Restaurant
- alettasumampouw
- 8 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Indonesia kaya akan berbagai hidangan nikmat. Dari Sabang hingga Merauke, ribuan resep lahir dari tradisi, perjalanan budaya, dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan lintas generasi. TAMU sebagai restoran Indonesia, mempersembahkan menu baru bertemakan "Cerita Baru di Meja TAMU" melalui peluncuran 18 menu baru yang terinspirasi dari resep dan teknik memasak tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, mencakup hidangan pembuka, hidangan utama, hingga hidangan penutup dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa, Bali, hingga Lombok.
TAMU mengusung filosofi "Tatap Muka" dengan identitas "Nostalgia Tapi Dinamis", Makan adalah tentang duduk bersama, membuka percakapan, dan menciptakan momen yang indah. Karena itu, setiap hidangan dalam koleksi terbaru ini tidak hanya dipilih karena cita rasanya, tetapi juga karena kisah, tradisi, dan identitas budaya yang dibawanya. Bagi TAMU, makanan dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali keberagaman Indonesia melalui cara yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: duduk bersama di satu meja makan.
"Indonesia tidak kekurangan makanan enak. Yang sering kurang adalah ruang untuk menceritakan keberagaman kuliner Indonesia secara lebih luas. Melalui Cerita Baru di Meja TAMU, kami berharap semakin banyak orang dapat mengenal Indonesia bukan hanya melalui hidangan yang sudah populer, tetapi juga melalui resep-resep luar biasa yang hidup dan berkembang di berbagai daerah di Nusantara," ujar Chef Alnico Andreas, Chef Owner TOMA Group.

Ada 6 Hidangan Cerita dari Nusantara unggulan, seperti Saksang Sapi Masak di Buluh, terinspirasi dari teknik memasak tradisional masyarakat Batak yang menggunakan batang bambu sebagai media memasak. Daging sapi dan jamur dimasak bersama bumbu rajang khas Sumatera Utara di dalam buluh bambu yang dibakar di atas bara api. Kelapa sangrai yang digoreng hingga berwarna coklat memberikan kedalaman rasa yang kaya, sementara andaliman menghadirkan aroma floral dan sensasi khas yang menjadi identitas kuliner Batak. Hasilnya adalah hidangan dengan karakter gurih, kaya rempah, dan aroma asap yang mengingatkan pada cara memasak tradisional yang kini semakin jarang ditemukan.
Selain itu TAMU menghadirkan Puyuh Tangkap, interpretasi baru dari hidangan legendaris Ayam Tangkap khas Aceh. Di TAMU, puyuh dipilih karena dagingnya cukup gurih dan tidak terlalu berlemak dibanding ayam. Disajikan bersama kelapa sangrai dan sambal pop, menu ini menghadirkan pengalaman baru terhadap salah satu hidangan paling ikonik dari Aceh.

Menu baru lainnya adalah Sate Tutut Bulayak, menggunakan keong sawah (tutut) sebagai bahan utama, menu ini menghadirkan bahan pangan yang selama ini lebih sering ditemukan di dapur rumahan atau daerah asalnya dibandingkan di restoran Indonesia modern. Terinspirasi dari tradisi kuliner Lombok, sate tutut ini disajikan bersama saus Bulayak berbasis rembiga santan yang kaya rempah, creamy, dan gurih. Serundeng kelapa serta acar bawang memberikan lapisan tekstur dan kesegaran yang melengkapi setiap suapan.
Menu baru Bebek Bumbu Rajang Terinspirasi dari tradisi Bebek Betutu khas Bali, hidanganini menghadirkan bebek yang dibumbui dengan bumbu rajang kaya rempah, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasak perlahan hingga empuk. Teknik memasak ini menghasilkan daging yang lembut, tidak amis, dengan profil rasa yang hangat dan kompleks tanpa dominasi rasa pedas. Disajikan bersama daun singkong, urap sayur, sambal matah, dan sambal embe, menu ini menghadirkan pengalaman menikmati hidangan Bali yang lengkap dalam satu sajian.

Sate Padang adalah hidangan yang familiar, di TAMU menu baru ini memilih versi yang lebih tradisional melalui kombinasi lidah sapi dan sengkel sapi dalam satu sajian. Kedua bagian daging tersebut memberikan tekstur yang berbeda namun saling melengkapi, disiram dengan saus kari Minang yang kaya rempah dan disajikan bersama lontong serta kerupuk jangek. Sebuah pengingat bahwa bahkan hidangan yang paling populer sekalipun masih menyimpan banyak detail dan cerita yang layak untuk terus dikenalkan kepada para tamu.
Untuk hidangan penutup, TAMU menghadirkan Pisang Kepik, interpretasi modern dari Pisang Kapik atau Pisang Jepit yang populer di Sumatera Barat. Secara tradisional, pisang dibakar dalam kondisi dijepit hingga pipih untuk menghasilkan aroma karamel alami yang khas, menjadi sajian yang lebih dinamis melalui kombinasi pisang bakar, bolu pisang, unti kelapa, santan, dan es krim vanilla, menciptakan pengalaman yang familiar namun tetap menghadirkan kejutan di setiap suapan.
Selain 6 hidangan unggulan, TAMU juga menghadirkan berbagai hidangan baru yang terinspirasi dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Cakalang Pao, Jamur Tiram Goreng, Tempe Mendoan, Kerupuk Kuning Asinan, Tuna Santan Segar, Urutan Sapi Asap, Tahu Gejrot, Asinan Sayur, Soto Betawi, Ikan Pesmol, Mie Goreng Se'i Sapi, dan Tumis Kangkung Tutut.
āIndonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar, dan kami percaya masih banyakresep, teknik memasak, serta cerita daerah yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Melalui Cerita Baru di Meja TAMU, kami ingin terus menghadirkan lebih banyak cerita tersebut ke meja makan. Harapannya, setiap tamu yang datang tidak hanya menikmati makanannya, tetapi pemahaman baru tentang betapa beragam dan kayanya kuliner Indonesia," tutup Hartono Moe, Co-Founder TOMA Group.
Melalui peluncuran 18 menu baru ini, TAMU berharap dapat membuka lebih banyak percakapan mengenai kekayaan kuliner Indonesia, sekaligus mengajak masyarakat Jakarta untuk mengenal Indonesia melalui rasa, tradisi, dan pengalaman makan bersama.













Komentar