top of page

'Garden of Senses: A Tea Reverie'

  • Gambar penulis: Maria Yuliana Kusrini
    Maria Yuliana Kusrini
  • 4 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

Chagee sebagai brand teh internasional menjalin kerjasama dengan Asian Civilisations Museum dan Singapore Tourism Board meluncurkan 'Garden of Senses: A Tea Reverie'. Pameran imersif ini berlangsung setiap hari mulai 28 Januari hingga 7 Juni 2026 di Asian Civilisations Museum.



Melalui Garden of Senses: A Tea Reverie, pengunjung diajak menyelami teh bukan hanya lewat rasa dan aroma, tetapi juga lewat pengalaman visual, sentuhan, suara, dan perenungan. Perjalanan multi-sensori ini menghubungkan pengunjung untuk kembali pada esensi kemanusiaan. Dimana tradisi minum teh merefleksikan perjalanan hidup dapat mengubah secangkir teh sederhana menjadi momen penuh kesadaran yang melintasi waktu dan budaya.


ā€œPameran yang dikurasi bersama ini menandai kolaborasi pertama Asian Civilisations Museum dengan sebuah brand gaya hidup global. Melalui kemitraan dengan Chagee dan

Singapore Tourism Board, kami memiliki kesempatan yang menarik untuk membayangkan

kembali bagaimana warisan teh dapat dialami. Dengan memadukan koleksi museum kami

dengan praktik kontemporer, kami menghadirkan cara baru yang segar dan multi-sensori bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan tradisi budaya. Sejarah dan seni teh memiliki banyak lapisan makna serta mempengaruhi beragam budaya Asia. Kolaborasi ini memungkinkan kami mengeksplorasi peran teh yang universal dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus merefleksikan relevansinya yang terus bertahan lintas wilayah dan sepanjang sejarah,ā€ ujar Clement Onn selaku Direktur Asian Civilisations Museum and Peranakan Museum.

Sejalan dengan visi tersebut, kolaborasi ini juga mencerminkan ambisi CHAGEE untuk

memperluas pemahaman global tentang budaya teh, melampaui sekadar minuman. ā€œTeh

sejak lama menjadi penghubung budaya yang menyatukan manusia lintas generasi dan

wilayah,ā€ kata Lawrence Wen, CEO CHAGEE Singapore. ā€œDi CHAGEE, kami memandang

teh sebagai sesuatu yang sangat personal—hadir dalam momen kebersamaan, percakapan,

dan keseharian. Melalui pameran ini, kami bangga dapat berkolaborasi dengan Asian

Civilisations Museum dan Singapore Tourism Board untuk mengajak pengunjung merasakan

teh bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai ritual hidup yang terus berkembang di masa kini.ā€


Kolaborasi tiga pihak ini juga mencerminkan pendekatan Singapore Tourism Board dalam

menghadirkan pengalaman destinasi yang relevan dan menarik, melalui inisiatif pemasaran

bersama brand global dan atraksi lokal. Kerja sama ini menampilkan karakter Singapura yang

dinamis—berakar pada kekayaan budaya dan komunitas yang saling terhubung, sekaligus

didorong oleh semangat kreatif yang berpandangan ke depan.


Kenneth Lim, Assistant Chief Executive (Marketing Group), Singapore Tourism Board,

mengatakan, ā€œPameran kolaboratif ini mencerminkan kekuatan unik dari masing-masing

pihak—wawasan kuratorial Asian Civilisations Museum, peran CHAGEE dalam membentuk

budaya teh modern, serta kapabilitas STB dalam destination storytelling—yang berpadu

menghadirkan pengalaman yang segar dan berkesan bagi pengunjung. Melalui kolaborasi

yang mempertemukan atraksi lokal dan brand internasional dengan cara yang tidak

konvensional, inisiatif ini memperkuat posisi Singapura sebagai pusat pengalaman baru yang

menarik, sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi dan memikat audiens yang mencari

pengalaman autentik dan inovatif.ā€

Garden of Senses: A Tea Reverie dihadirkan sebagai sebuah perjalanan bertahap yang

memadukan koleksi bersejarah, interpretasi kontemporer, serta karya seni baru hasil komisi

kreator lokal, termasuk Ashley Yeo dan Alecia Neo, yang mengeksplorasi teh melalui

perspektif masa kini. Mengajak pengunjung menyelami suasana hening dan kontemplatif,

karya Shade of Tea oleh Ashley Yeo menghadirkan visual daun teh dalam bentuk kertas yang

seolah melayang. Praktik artistik Yeo dikenal melalui karya-karya yang tenang dan atmosferik,

mengeksplorasi kelambatan, materialitas, serta cara kita mempersepsikan ruang perenungan.


Sebagai kontras, Symphony of Tea karya Alecia Neo bersama komposer Clarence Chung

dengan videografi oleh Jonathan Goh dan perekaman suara oleh Wesley Meow menghadirkan pengalaman teh layaknya sebuah simfoni melalui suara, ritme, gestur, dan

koneksi antarmanusia, yang terinspirasi dari video Autonomous Sensory Meridian Response

(ASMR). Karya ini mencerminkan praktik kolaboratif Neo yang berbasis fotografi, video, dan

karya partisipatif, dengan pendekatan yang menekankan keramahan radikal dan kepedulian.

Sepanjang pameran, pengunjung akan menjumpai instalasi patung yang terinspirasi dari daun teh, lanskap suara imersif, pengalaman berbasis aroma, serta eksplorasi taktil melalui

berbagai peralatan pembuatan teh. Seluruh elemen ini menunjukkan bagaimana praktik dan

ekspresi kreatif seputar teh terus berkembang hingga hari ini.


Peralatan teh bersejarah yang dihadirkan dalam bentuk replika cetak 3D, bersama cangkir

kontemporer CHAGEE serta ruang komunal bernuansa alam, mengajak pengunjung untuk

berhenti sejenak, berbagi, dan berefleksi. Keseluruhan pengalaman ini merefleksikan ritual

sosial yang sejak lama mengiringi budaya minum teh, menempatkan teh bukan sekadar

artefak budaya, melainkan praktik hidup yang terus menghubungkan manusia hingga kini.


Pengalaman pameran ini akan diperluas melalui kehadiran pop-up CHAGEE di kawasan

Singapore River, yang menghadirkan rangkaian minuman lengkap serta merchandise

eksklusif yang sebelumnya hanya tersedia di Tiongkok. Pop-up CHAGEE ini juga akan menjadi momen peluncuran eksklusif dua plush charm Chagee edisi khusus. Varian biru muda edisi terbatas hanya tersedia bagi pemegang tiket pameran, sementara varian cokelat muda dapat dibeli oleh pengunjung umum. Kedua charm ini memadukan sosok kuda—sebagai penghormatan terhadap jalur perdagangan teh kuno yang melintasi wilayah dengan bantuan kuda—dengan Merlion, ikon Singapura, yang merepresentasikan asal-usul negara ini sebagai Lion City. Perpaduan ini menghadirkan jembatan antara warisan teh dan identitas budaya Singapura.


Garden of Senses: A Tea Reverie dihadirkan sebagai bagian dari tiket All Access Asian

Civilisations Museum, dengan harga S$25 untuk wisatawan dan S$12 untuk warga Singapura

serta Permanent Residents (PR). Tiket All Access memberikan akses ke seluruh pameran

yang berlangsung di museum pada hari kunjungan.

Komentar


bottom of page