• Maria Yuliana Kusrini

Kampanye #SantapAman, Sosialisasi Pentingnya Kebersihan Makanan & Minuman

Kulineran dan makan-makan tentu jadi salah satu kegiatan yang begitu menyenangkan untuk dilakukan. Berkunjung ke suatu tempat baru, tentu jadi hal wajib untuk mencicipi kuliner khas daerah setempat. Apalagi jika hal itu dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok, tentunya akan lebih terasa seru. Tapi dibalik itu semua, sebenarnya ada bahaya yang mengancam kita lewat aneka makanan atau minuman yang kita konsumsi itu.



Melihat fenomena itu, Sanofi Pasteur Indonesia pun menginisiasi sebuah kampanye #SantapAman yang juga dihadirkan berbarengan dengan Hari Kesehatan Nasional. Melalui kampanye ini, Sanofi ingin mensosialisasikan pentingnya mendapatkan vaksinasi untuk mencegah penyakit menular melalui makanan (food brne disease), khususnya penyakit tifoid atau demam tifoid. Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Typhi melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penyakit satu ini memang cukup tinggi di Indonesia yang disebabkan penanganan makanan yang tidak tepat sehingga terkontaminasi bakteri.


Resiko kontaminasi pada makanan atau minuman itu sendiri bisa terjadi pada tahap persiapkan bahan makanan, proses pengolahan, saat penyajian, proses pengemasan, penyimpanan, ataupun saat tahap pengantaran makanan. Hal ini berlaku untuk makanan/minuman yang dibuat sendiri di rumah ataupun dibeli. Apalagi untuk masa sekarang ini, masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan yang lebih praktis dengan cara membelinya secara online. Tentunya kemungkinan makanan/minuman kita terbebas dari kontaminasi kuman penyebab food borne disease seperti demam tifoid makin kecil.


Demam tifoid yang masuk sebagai penyakit akut ini memiliki gejala demam yang meningkat secara bertahap tiap harinya. Pada saat malam hari, demam akan lebih tinggi yang disertai nyeri otot, sakit kepala, kelelahan dan lemas, serta munculnya ruam. Pada anak-anak, tifoid disertai sering mengalami diare, sementara orang dewasa cenderung mengalami konstipasi. Kasus demam tifoid sendiri paling banyak ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.



Mengingat Indonesia masuk sebagai negara endemik tifoid, maka harus dilakukan langkah yang tepat untuk menanggulanginya. Selain dengan cara menjaga sanitasi dan higienitas masing-masing serta menghindari kontak dengan penderita, juga perlu dilakukan vaksinasi. Cara ini dinilai cukup efektif untuk mencegah demam tifoid, karena vaksinasi dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan infeksi bakteri Salmonella Typhi. Vaksinasi ini dapat dilakukan mulai usia dua tahun ke atas. Dan untuk perlindungan lebih maksimal, direkomendasikan tiap orang mendapat vaksinasi tifoid setiap tiga tahun sekali.


“Di Sanofi Pasteur, kami berkomitmen menjadi mitra kesehatan terpercaya yang menyediakan perlindungan kesehatan berkualitas melalui vaksin dan mengedukasi berbagai pihak mengenai pentingnya vaksinasi. Di kampanye #SantapAman, kami mengajak semua pihak agar senantiasa menjaga higienitas saat menyiapkan makanan, rutin mencuci tangan, dan selangkah lebih maju dengan memberikan perlindungan untuk diri serta keluarga dari risiko penularan penyakit melalui makanan dengan melakukan vaksinasi tifoid agar kita lebih tenang saat menyantap makanan favorit,” ungkap dr Dhani Arifandi selaku Head of Medical Sanofi Pasteur Indonesia.