top of page

PINTU Incubator 2026 Padukan Mode Indonesia & Prancis di JF3 Fashion 2026

  • Gambar penulis: Maria Yuliana Kusrini
    Maria Yuliana Kusrini
  • 57 menit yang lalu
  • 3 menit membaca

PINTU Incubator 2026 memperkuat kolaborasi antara mode Indonesia dan Prancis yang dihadirkan pada ajang JF3 Fashion 2026. Memasuki tahun kelimanya, PINTU memperluas pengembangan talenta, kolaborasi internasional, dan residensi lintas budaya, sekaligus memulai proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia.



PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie, IFI. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 brand dan desainer. Tahun 2026 ini, PINTU Incubator menerima 39 pendaftar yang melewati proses seleksi hingga memilih 10 peserta untuk mengikuti program inkubasi. Kelima peserta itu terdiri dari dua brand, yakni Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, yakni Aldrie, Andrean NR, dan Dacia.


Kelimanya terpilih untuk mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026 dengan menghadirkan pendekatan yang beragam. Mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi. Program ini melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.


“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu, yakni dalam mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” ujar Thresia Mareta selaku Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia.



Pada jalur Accelerator, DENIMITUP mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET. Kolaborasi itu mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama. Lil Public pun turut berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis, sekaligus memberikan pengalaman presentasi dan interaksi bagi brand Indonesia di lingkungan mode internasional.


PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer. Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.


Sedangkan di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas. Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer. Hasil dari kedua proses tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.



“Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang,” ujar Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fahion Festival sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator.


Proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia menjadi langkah untuk memperkuat kesinambungan program dan memperluas dampaknya bagi ekosistem mode. Melalui inkubasi, akselerasi, residensi, dan berbagai kolaborasi Indonesia–Prancis, PINTU akan terus membangun ruang belajar, pertukaran, dan kesempatan yang relevan bagi generasi baru pelaku mode. PINTU tidak hanya hadir untuk menyelenggarakan program, tetapi untuk membangun hubungan, pengalaman, dan proses yang dapat melahirkan kemungkinan baru bagi perkembangan industri mode Indonesia.

Komentar


bottom of page