© 2019 yukmakan channel

  • Novi Amaliyah

Berbagai Cerita Dibalik Garam Sebagai Penambah Citarasa Sajian



Meski terlihat sepele garam menjadi salah satu komoditas yang mempengaruhi eksistensi manusia dari jaman purba. Bahkan sajian menjadi hambar tanpa garam, selain menambah citrasa pada sajian, garam juga punya banyak manfaat. Antara lain pembuatan obat-obatan, membantu mencairkan es dari jalanan pada saat musim dingin, menyuburkan lahan pertanian, pembuatan sabun, melarutkan air hingga pada pewarnaan tekstil.


Penggunaan garam sudah dilakukan sejumlah peradaban kuno, bukan hanya untuk kebutuhan kulinari. Bangsa Mesir kuno memakai garam untuk membuat mumi, teknik ini kemudian dipakai untuk mengawetkan daging. Petani-petani Eropa Abad Pertengahan belajar menjauhkan hasil panennya dari jamur ergot yang beracun dengan cara merendamnya ke dalam air garam. Ketika peradaban menyebar, garam menjadi salah satu komoditas perdagangan utama dunia.


Rute perdangan garam melintasi dunia. Bagaimana orang-orang Maroko selatan melintasi Sahara ke Timbuktu karena garam. Kapal-kapal yang membawa garam dari Mesir ke Yunani melintasi laut Mediterania dan Aegea. Herodotus bahkan mengisahkan bagaimana rute karavan yang menyatukan oasis garam di gurun Libya.


Pada awal abad ke-6, di sub-Sahara, pedagang Moor secara rutin menukar 1 ons garam dengan 1 ons untuk emas. Di Abyssinia, lempengan garam batu, yang disebut ‘amôlés, menjadi koin kerajaan. Masing-masing panjangnya sekitar sepuluh inci dan tebal dua inci. Kue garam juga digunakan sebagai uang di daerah lain di Afrika tengah. Betapa komoditi garam saat itu begitu penting dan berharga.


Berbagai penguasa hampir tak pernah absen menerapkan pajak garam. Nilai garam seringkali jauh lebih tinggi dari semestinya. Garam disejajarkan dengan benda-benda berharga lainnya. Orang-orang di Lembah Niger, yang tak mempunyai sumber garam alami dan jauh dari laut, pada abad ke-16 membarter emasnya dengan garam dari orang-orang Mediterania


Bangsa China mungkin menjadi pertama dan terbanyak berhubungan dengan garam. Catatan paling awal produksi garam di China sudah ada dari sekitar 800 SM. Di dalamnya termuat informasi mengenai produksi dan perdagangan garam laut di sana satu milenium sebelumnya, tepatnya pada masa Dinasti Xia. Digambarkan, orang-orang memproduksi garam dengan memasukkan air laut ke dalam bejana tanah liat. Air itu lalu didihkan hingga susut dan hanya menyisakan kristal-kristal garam. Teknik ini lalu diikuti orang-orang di berbagai belahan dunia hingga dua milenium sesudahnya.


Pengolahan garam paling awal di masa prasejarah China terdapat di provinsi Shanxi. Danau air asin di sana, Danau Yuncheng, menjadi sumbernya. Penduduk selalu memanen Kristal garam setiap tahunnya ketika air danau menguap oleh matahari pada saat musim panas. Orang-orang China pula yang mensuplai garam ke kepulauan Nusantara pada masa prakolonial. Garam masyarakat Nusantara kala itu disuplai dari Kocin, China, pantai utara Jawa, Pulau Luzon, Coromandel, dan Thailand. Orang Eropa punya peran besar bagi pergaraman di Nusantara. Sejak ada VOC, pajak tak langsung atas garam diberlakukan dan mereka memperluas tambak garam pada abad ke-19. Kemudian pada 1813, Raffles memonopoli garam di seluruh wilayah kekuasaannya.