• Maria Yuliana Kusrini

6 Camilan Khas Betawi Favorit yang Wajib Dijajal

Bulan Juni menjadi sebuah bulan istimewa bagi Kota Jakarta. Itu karena di tanggal 22 Juni menjadi peringatan hari jadi dari Ibu Kota Negara Indonesia. Di moment ini, biasanya akan banyak bermunculan aneka hidangan khas Betawi yang dihadirkan oleh resto di hotel ataupun tempat lainnya. Mulai dari minuman khas, camilan, hingga hidangan berat khas Betawi bisa dinikmati dan dijumpai di tempat makan yang biasanya tidak menyediakan pilihan menu itu. Kreasi hidangan khas Betawi pun ada banyak varian dan pilihan, khusus untuk camilan atau makanan ringannya sendiri bisa kita temukan di pinggir jalan yang banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima. Dari banyak camilan khas Betawi, berikut ini beberapa di antaranya yang banyak dijadikan camilan favorit.



Kerak Telur

Siapa sih yang tidak kenal dengan camilan satu ini? Kerak Telur biasanya dijajakan oleh pedagang dengan menggunakan gerobak yang dipikul. Pada moment ulang tahun Jakarta, akan banyak sekali ditemukan pedagang Kerak Telur dadakan. Khususnya di area jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat akan terlihat pedagang Kerak Telur berjajar. Sajian bercitarasa gurih ini menjadikan beras ketan putih dan telur sebagai bahan utamanya. Pembeli bisa memilih telur yang ingin dinikmati, yakni antara telur ayam ataupun telur bebek.


Kue Rangi

Jajanan tradisional khas Betawi ini sudah mulai jarang dijumpai. Kue Rangi, dinamakan seperti itu karena proses pembuatannya yang digarang menggunakan bara api dari kayu. Kue rangi dari istilah ‘digarang wangi’ ini menjadikan tepung sagu yang dipadukan dengan kelapa parut dan penambahan gula merah atau gula aren. Proses pembuatan yang digarang itu menciptakan aroma wangi yang khas dan citarasa manis gurih sudah pasti akan didapatkan dari camilan khas satu ini.


Kue Tete

Jajanan khas Betawi satu ini terbuat dari bahan baku yang begitu sederhana dan mudah ditemukan. Meski demikian, olahan berbahan dasar tepung terigu berpadu dengan tepung beras ini punya sensasi rasa yang pas di lidah. Selain menyediakan pilihan rasa original, kue tete ini juga tersedia dengan pilihan rasa pandan. Dinamakan kue tete, camilan satu ini tampilannya memang menyerupai tete atau payudara. Berbentuk bundar melebar dan yang menjadi ciri khasnya adalah ada tonjolan di bagian tengahnya.


Kue Pepe

Memiliki nama yang agak menyerupai kue tete, camilan ini secara tampilan dan bahan yang digunakan nyatanya sangatlah berbeda. Kue pepe merupakan salah satu camilan manis khas Betawi. Jika di Jakarta dikenal dengan sebutan sebagai kue pepe, di kawasan Jawa Tengah lebih mengenalnya dengan sebutan kue lapis. Kue pepe sendiri memiliki citarasa manis dengan tekstur basah agak lengket dan berlapis-lapis. Camilan ini terbuat dari campuran tepung beras, tepung tapioka, santan, gula pasir, hingga daun pandan.


Asinan

Ingin menikmati sajian yang segar, asinan khas Betawi bisa dijadikan pilihan terbaik. Asinan proses pembuatannya dengan cara difermentasi atau diawetkan dalam air cuka dan garam, sehingga memiliki citarasa asam asin yang menyegarkan. Khusus untuk asinan khas Betawi sendiri menjadikan sayuran sebagai bahan utamanya. Sayuran yang digunakan adalah sawi asin. Sawi asin yang sudah difermentasi itu pun disajikan bersama dengan sayuran lain, seperti wortel, kubis, taoge, dan juga selada. Tak hanya berisi sayuran, asinan Betawi juga diramaikan dengan tahu, kerupuk mi, taburan kacang tanah goreng, dan juga bumbu kacang yang sudah dicampur dengan cuka dan cabai.


Dodol Betawi

Hampir semua wilayah di Indonesia memiliki camilan bernama dodol, tak terkecuali dengan Jakarta. Bernama Dodol Betawi, camilan khas ini melewati proses pembuatan yang rumit dan memakan waktu agak lama. Memiliki tampilan berwarna hitam kecoklatan, dodol khas Betawi terbuat dari ketan putih, gula merah, gula pasir, santan dari kelapa tua, dan penambahan durian. Memasak dodol membutuhkan waktu setidaknya 8-12 jam lamanya. Campuran semua bahan itu harus terus diaduk selama proses pemasakannya yang umumnya menggunakan kayu bakar. Api yang digunakan juga tidak boleh terlalu besar, karena akan menyebabkan dodolnya menjadi gosong.