• Novi Amaliyah

6 Manfaat Kismis Bagi Kesehatan Yang Perlu Kamu Ketahui


kismis
Manfaat kesehatan kismis yang mengejutkan

Kismis, buah kering satu ini adalah salah satu buah kering populer yang dijadikan paduan untuk membuat kudapan manis seperti cake, cookies hingga es krim. Saat ini, sebagian besar kismis dibuat dari anggur Thompson tanpa biji. Dimana anggur ini akan diletakkan di atas wadah antara barisan kebun anggur dan dibiarkan kering di bawah sinar matahari saat dipanen.


Ini adalah proses pengeringan matahari alami yang mengubah anggur menjadi kismis. Oksidasi dan karamelisasi gula selama proses ini menghasilkan bagian luar kismis yang berwarna coklat tua hingga hitam. Kismis secara tradisional dikeringkan dengan sinar matahari, tetapi juga dapat dicelupkan ke dalam air dan didehidrasi secara artifisial. Secara umum, proses pengeringan mempertahankan dan mengkonsentrasikan antioksidan kismis. Meski kecil ternyata buah satu ini mengandung banyak manfaat kesehatan yang cukup mengejutkan. Kismis cukup kaya nutrisi yang cukup sebagai sumber energi, elektrolit, vitamin, dan mineral yang terkonsentrasi. Beberapa manfaat nutrisi kismis termasuk diantaranya adalah untuk menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung.


Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi harian dapat secara signifikan menurunkan tekanan darah, terutama jika dibandingkan dengan makan makanan ringan umum lainnya, menjadikannya salah satu solusi alami yang lebih baik untuk tekanan darah tinggi. Kismis juga memiliki konsentrasi senyawa fenolik yang cukup besar, yang berperan dalam pencegahan dan pengobatan kanker. Apa saja manfaat kismis bagi kesehatan, yuk simak 6 manfaat kismis bagi kesehatan.


Mengurangi Kemungkinan Gigi Berlubang dan Penyakit Gusi

Bertentangan dengan anggapan buah kering manis dan lengket satu ini, ternyata kismis sebenarnya dapat meningkatkan kesehatan mulut. Bahkan, kismis bahkan dapat secara alami untuk membalikkan gigi berlubang dan menyembuhkan kerusakan gigi. Penelitian yang diterbitkan dalam Phytochemistry Letters mengungkapkan bahwa kismis dapat bermanfaat bagi kesehatan mulut karena buah ini memiliki fitokimia antimikroba yang menekan pertumbuhan bakteri mulut yang terkait dengan gigi berlubang dan penyakit gusi. Salah satu dari lima fitokimia yang diidentifikasi dalam penelitian dalam nutrisi kismis adalah asam oleanolat. Dalam studi tersebut, asam oleanolic menghambat pertumbuhan dua spesies bakteri mulut: Streptococcus mutans, yang menyebabkan gigi berlubang, dan Porphyromonas gingivalis, yang menyebabkan penyakit periodontal alias penyakit gusi.


Membantu Pencernaan Yang Baik

Sebagai makanan berserat tinggi, kismis adalah salah satu asupan yang membantu pencernaan berjalan dengan baik. Kismis mengandung serat larut dan tidak larut, yang keduanya membantu menjaga segala sesuatunya bergerak melalui saluran usus dengan cara yang sehat dengan mengurangi sembelit tetapi juga mencegah buang air besar. Buah-buahan kering mungkin memiliki lebih banyak kalori daripada segar, tetapi juga memiliki jumlah serat yang lebih tinggi. Jadi, sementara kalori dalam kismis per porsi lebih tinggi dari anggur, satu cangkir anggur memiliki satu gram serat sementara satu cangkir kismis memiliki tujuh gram serat.


Menurunkan Tekanan Darah dan Mengurangi Risiko Stroke

Data yang dipresentasikan pada Sesi Ilmiah Tahunan ke-61 American College of Cardiology pada tahun 2012 menunjukkan bahwa individu dengan peningkatan tekanan darah ringan dapat mengambil manfaat dari konsumsi rutin kismis (tiga kali sehari). Para peneliti menemukan bahwa konsumsi harian ini secara signifikan dapat menurunkan tekanan darah, terutama jika dibandingkan dengan makan makanan ringan umum lainnya. Selain itu, nutrisi kismis kaya akan kalium elektrolit yang menyehatkan jantung, membantu mencegah rendah kadar kalium rendah. Kalium adalah mineral kunci untuk fungsi yang tepat dari semua sel, jaringan dan organ dalam tubuh manusia. Orang yang mendapatkan banyak asupan potasium dalam makanannya memiliki risiko lebih rendah terkena stroke, terutama stroke iskemik.


Membantu Mengelola Diabetes

Sebuah studi acak pada tahun 2015 mengevaluasi dampak konsumsi rutin kismis berwarna gelap dibandingkan camilan olahan alternatif pada kadar glukosa dan faktor risiko kardiovaskular lainnya di antara pasien dengan diabetes tipe II. Dalam penelitian ini, dibandingkan dengan camilan olahan alternatif, mereka yang mengonsumsi kismis mengalami penurunan kadar glukosa sebesar 23 persen setelah makan. Mereka yang mengonsumsi kismis juga mengalami penurunan glukosa puasa 19 persen dan penurunan tekanan darah sistolik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian mendukung kismis sebagai pilihan camilan sehat untuk pasien diabetes tipe II. Kandungan serat kismis juga membantu tubuh memproses gula alami kismis, yang membantu mencegah lonjakan insulin.


Membantu Mencegah Kanker

Studi menunjukkan buah-buahan yang dikeringkan, terutama kurma, plum dan kismis, mengandung komponen fenolik tinggi yang memiliki kekuatan antioksidan lebih kuat daripada beberapa buah segar. Antioksidan sangat penting bagi kesehatan, karena kemampuannya mencegah radikal bebas (bahan kimia yang sangat reaktif yang berpotensi merusak sel) yang menyebabkan kerusakan sel di dalam tubuh. Radikal bebas adalah salah satu faktor utama yang mendasari yang mengarah pada pertumbuhan spontan sel kanker serta penyebaran kanker, itulah sebabnya makanan antioksidan tinggi seperti kismis adalah makanan anti kanker yang hebat. Menurut sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2019, “asupan kismis dan buah kering lainnya yang lebih tinggi mungkin penting dalam pencegahan kanker pada sistem pencernaan.” Dengan mengonsumsi kismis ke dalam asupan menu sehari-hari, tak hanya hanya dapat meningkatkan kadar antioksidan, tetapi juga dapat membantu mengurangi kerusakan sel dan menangkal kanker.


Mencegah Anemia

Kismis mengandung tembaga, vitamin, dan zat besi yang tinggi dimana komponen ini penting untuk memproduksi sel darah merah. Karena kandungannya ini kismis memiliki manfaat untuk membantu dan mencegaoh kekurangan sel darah merah atau anemia.


Foto: Dok. Pixabay